Di-PHK, Jurnalis Ini Berjuang Hidupi Keluarga: Pendidikan Anak Tertunda, Untuk Makan Pun Harus Berutang

- Pewarta

Jumat, 4 September 2026 - 00:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANTEN EKPRES.COM — Kehilangan pekerjaan menjadi pukulan berat bagi siapa pun. Namun bagi Agus, mantan jurnalis yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), kehilangan pekerjaan berarti harus menghadapi perjuangan baru, bagaimana tetap menghidupi istri dan anak-anaknya ketika penghasilan sudah tidak lagi pasti.

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Setiap hari, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Biaya makan, pendidikan anak, kebutuhan sekolah hingga kebutuhan anak balita tidak bisa dihentikan hanya karena dirinya kehilangan pekerjaan.

 

“Saya boleh kehilangan pekerjaan, tetapi tanggung jawab terhadap istri dan anak tidak pernah hilang. Saya harus tetap bekerja keras mencari penghasilan, meskipun kondisi sekarang sangat sulit,” ujar Agus.

 

Selama menjadi jurnalis, penghasilan dari pekerjaannya menjadi salah satu tumpuan keluarga. Setelah terkena PHK, kondisi ekonomi keluarga perlahan semakin berat.

 

Bahkan, persoalan tersebut kini berdampak langsung terhadap pendidikan anak-anaknya.

Ijazah Tertahan, Anak Kesulitan Melanjutkan Sekolah

Anak pertama Agus harus menghadapi kendala ketika hendak melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP. Ijazah dari sekolah sebelumnya belum dapat diambil karena masih terdapat tunggakan biaya pendidikan.

 

Kondisi itu membuat proses pendaftaran ke jenjang SMP menjadi semakin sulit karena dokumen pendidikan dari sekolah sebelumnya dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan.

 

“Anak saya seharusnya sudah melanjutkan ke SMP, tetapi masih terkendala ijazah karena ada tunggakan biaya sekolah. Saya sangat kepikiran karena pendidikan anak jangan sampai berhenti hanya karena persoalan ekonomi,” katanya.

 

Sementara anak keduanya yang kini duduk di kelas 4 SD juga masih harus bertahan di sekolah swasta karena terdapat tunggakan biaya pendidikan.

Peluang bagi aktivis pers pelajar, pers mahasiswa, dan muda/mudi untuk dilatih menulis berita secara online, dan praktek liputan langsung menjadi jurnalis muda di media ini. Kirim CV dan karya tulis, ke WA Center: 087815557788.

 

Tidak berhenti di situ. Keterbatasan ekonomi membuat anak keduanya juga tidak memiliki buku cetak untuk belajar. Agus mengaku kondisi tersebut bahkan pernah membuat anaknya mendapat hukuman dari guru.

Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

 

Bagi seorang ayah, kondisi tersebut menjadi luka tersendiri.

Investor yang serius bisa mendapatkan 100% kepemilikan media online dengan nama domain super cantik ini. Silahkan ajukan penawaran harganya secara langsung kepada owner media ini lewat WhatsApp: 08557777888.

Ia ingin anak-anaknya belajar dengan tenang seperti anak-anak lainnya. Namun, keadaan ekonomi membuat dirinya harus memilih dan mengutamakan kebutuhan yang paling mendesak.

Untuk Makan Saja Harus Berjuang
Di tengah persoalan pendidikan, kebutuhan paling dasar pun menjadi perjuangan.

 

Agus memiliki anak yang masih berusia sekitar 2,5 tahun. Ia menyadari anak seusia tersebut membutuhkan makanan bergizi dan asupan yang cukup untuk tumbuh sehat.

 

Namun, kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk membuat kebutuhan tersebut tidak selalu mudah dipenuhi.

“Untuk makan saja saya harus berjuang keras. Anak saya masih balita, tentu membutuhkan makanan yang sehat dan bergizi. Tetapi kondisi ekonomi membuat kami harus hidup prihatin,” ungkapnya.

 

Harus Di usir dari kontrakan

Ujian lain pun datang lagi, dimana saya bersama keluarga harus pindah kontrakan. Hal ini karena dampak dari PHK, karena harus membayar lunas kontrakan.

 

Kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama.Untuk bertahan, Agus terpaksa meminjam uang kepada teman-teman sesama jurnalis agar keluarganya tetap bisa makan. Sejumlah rekan seprofesi memberikan pinjaman maupun bantuan.

Seorang dosen juga disebut Agus turut membantu keluarganya ketika mengetahui kondisi yang sedang dihadapinya.

Bantuan tersebut menjadi penyambung hidup di tengah ketidakpastian penghasilan.

Sudah Berusaha Meminta Perhatian
Agus mengaku tidak tinggal diam. Ia berusaha menyampaikan kondisi yang dialaminya melalui media sosial kepada sejumlah tokoh, termasuk berharap persoalannya mendapat perhatian pemerintah.

Namun hingga kini, ia mengaku belum mendapatkan tanggapan yang diharapkan.

Ia juga pernah menceritakan persoalannya kepada salah seorang pejabat dengan harapan persoalan jurnalis korban PHK dapat disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Namun, kembali ia mengaku belum memperoleh kabar.

“Saya berharap persoalan dampak PHK terhadap jurnalis bisa disampaikan kepada Presiden. Tetapi sampai sekarang belum ada tanggapan. Saya hanya berharap ada kabar baik,” ujarnya.

 

Tidak Minta Dikasihani

Di balik kesulitan yang dihadapi, Agus menegaskan bahwa dirinya tidak ingin dikasihani.

Ia hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk kembali bekerja.
Baginya, pekerjaan bukan sekadar soal mendapatkan penghasilan pribadi.

Pekerjaan adalah jalan untuk memastikan anak-anaknya tetap bisa sekolah, kebutuhan pangan keluarga terpenuhi dan kehidupan rumah tangga kembali berjalan normal.

 

“Saya tidak ingin dikasihani. Saya hanya ingin ada kesempatan untuk bekerja kembali. Saya ingin bisa menghidupi keluarga saya dengan hasil kerja sendiri,” katanya.

Ia berharap segera mendapatkan pekerjaan baru sehingga kondisi ekonomi keluarganya dapat kembali pulih.

“Saya berharap dampak PHK ini bisa cepat selesai dan ada pekerjaan baru yang membuat ekonomi saya kembali normal. Saya ingin kebutuhan anak-anak saya terpenuhi dan urusan pendidikan mereka bisa segera selesai,” ujarnya.

 

Di Balik PHK Ada Istri yang Ikut Berjuang

 

Tak hanya itu, istri juga sudah berjuang keras untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarga, karena itu perjuangan istri juga patut dihargai.

Kisah Agus menjadi gambaran bahwa PHK terhadap seorang jurnalis tidak berhenti pada hilangnya pekerjaan.

 

Di belakang seorang pekerja media yang terkena PHK terdapat keluarga yang ikut merasakan dampaknya. Ada anak yang membutuhkan biaya sekolah, ada kebutuhan pangan yang harus dipenuhi, dan ada masa depan keluarga yang harus tetap diperjuangkan.

Gelombang PHK di industri media juga telah menjadi perhatian organisasi profesi jurnalis. Persoalan tersebut bukan hanya mengenai kehilangan pekerjaan, tetapi juga menyangkut hak pekerja dan keberlangsungan kehidupan keluarga yang ditinggalkan.

Bagi Agus dan jurnalis korban PHK lainnya, harapannya sederhana.

 

Mereka ingin kembali bekerja. Mereka ingin mendapatkan penghasilan yang layak. Dan yang paling penting, mereka ingin tetap mampu menjalankan tanggung jawab untuk menghidupi keluarga.

“Cerita saya ini mungkin hanya sebagian kecil dari cerita teman-teman lain yang juga terkena PHK. Kami tetap harus berjuang. Kami berharap suatu saat ada kabar baik dan kehidupan keluarga kami bisa kembali normal,” terangnya.

 

 

Berita Terkait

Hasanuddin Dorong Panas Bumi Jadi Andalan Energi Bersih Indonesia
Menjelang Dua Tahun Pemerintahan, Pengamat: Wajar Prabowo Evaluasi dan Pertimbangkan Reshuffle Kabinet
Pengamat Intelijen Sri Radjasa Minta Transparansi dan Efisiensi APBN Soal Pengadaan Alutista
Rocky Gerung Soroti Akar Masalah Ekonomi, Sebut Keadilan Sosial Jadi Penentu Nasib Rupiah dan Masa Depan Indonesia
Menteri Jumhur Dorong Hakim Jadi Penjaga Alam, Putusan Tak Cukup Hukum Pelaku tapi Wajib Pulihkan Lingkungan
Harga BBM Non-Subsidi Turun Mulai 1 Agustus 2026, Pertamina Sesuaikan dengan Harga Minyak Dunia
Prabowo–Putin Teken Empat Kerja Sama Strategis Indonesia–Rusia
Uang Rakyat Menguap di Layar Chromebook: Tiga Eks Stafsus Diduga Mengatur Kajian Pengadaan Laptop
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 05:49 WIB

Huawei Perkenalkan Produk Flagship Generasi Baru dalam Acara Peluncuran Produk Global “Chase the Wild” di Munich

Jumat, 4 September 2026 - 02:00 WIB

ITE Hong Kong 2027: Dua Pertiga “Trade Buyer” dan Wisatawan FIT Berasal dari GBA

Jumat, 4 September 2026 - 01:30 WIB

Roborock Hadirkan Ekosistem Pembersihan Cerdas yang Berpusat pada Kebutuhan Pengguna, Mulai dari Ruang Keluarga hingga Kolam Renang, di IFA 2026

Kamis, 3 September 2026 - 13:00 WIB

Hollyland Luncurkan Pyro 7 Ultra, Sistem Monitoring Nirkabel All-in-One untuk Kebutuhan Produksi Film Profesional

Kamis, 3 September 2026 - 08:00 WIB

Program dukungan kesehatan mental bagi ibu hamil dan menyusui memenangkan tantangan senilai €2,6 juta untuk meningkatkan kesejahteraan para orang tua di Asia Tenggara

Kamis, 3 September 2026 - 07:13 WIB

Zendure Perkenalkan Agentic HEMS di IFA 2026: “Pusat Energi Rumah di Era AI”

Kamis, 3 September 2026 - 05:19 WIB

Laporan Terbaru Ungkap Sebagian Besar Keterlambatan Penanganan Stroke di Indonesia Terjadi Sebelum Pasien Tiba di Rumah Sakit yang Tepat

Kamis, 3 September 2026 - 03:00 WIB

KONE Indonesia menetapkan standar baru di industri sebagai perusahaan pertama yang meraih Sertifikasi Green Label Platinum

Berita Terbaru