BANTEN EKPRES.COM — Kehilangan pekerjaan menjadi pukulan berat bagi siapa pun. Namun bagi Agus, mantan jurnalis yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), kehilangan pekerjaan berarti harus menghadapi perjuangan baru, bagaimana tetap menghidupi istri dan anak-anaknya ketika penghasilan sudah tidak lagi pasti.
Setiap hari, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Biaya makan, pendidikan anak, kebutuhan sekolah hingga kebutuhan anak balita tidak bisa dihentikan hanya karena dirinya kehilangan pekerjaan.
“Saya boleh kehilangan pekerjaan, tetapi tanggung jawab terhadap istri dan anak tidak pernah hilang. Saya harus tetap bekerja keras mencari penghasilan, meskipun kondisi sekarang sangat sulit,” ujar Agus.
Selama menjadi jurnalis, penghasilan dari pekerjaannya menjadi salah satu tumpuan keluarga. Setelah terkena PHK, kondisi ekonomi keluarga perlahan semakin berat.
Bahkan, persoalan tersebut kini berdampak langsung terhadap pendidikan anak-anaknya.
Ijazah Tertahan, Anak Kesulitan Melanjutkan Sekolah
Anak pertama Agus harus menghadapi kendala ketika hendak melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP. Ijazah dari sekolah sebelumnya belum dapat diambil karena masih terdapat tunggakan biaya pendidikan.
Baca Juga:
Harga BBM Non-Subsidi Turun Mulai 1 Agustus 2026, Pertamina Sesuaikan dengan Harga Minyak Dunia
Kondisi itu membuat proses pendaftaran ke jenjang SMP menjadi semakin sulit karena dokumen pendidikan dari sekolah sebelumnya dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan.
“Anak saya seharusnya sudah melanjutkan ke SMP, tetapi masih terkendala ijazah karena ada tunggakan biaya sekolah. Saya sangat kepikiran karena pendidikan anak jangan sampai berhenti hanya karena persoalan ekonomi,” katanya.
Baca Juga:
Prabowo–Putin Teken Empat Kerja Sama Strategis Indonesia–Rusia
Uang Rakyat Menguap di Layar Chromebook: Tiga Eks Stafsus Diduga Mengatur Kajian Pengadaan Laptop
PT Noor Annisa Kemikal Disegel KLHK, Dugaan Limbah Berbahaya Cemari Lingkungan Sekitar
Sementara anak keduanya yang kini duduk di kelas 4 SD juga masih harus bertahan di sekolah swasta karena terdapat tunggakan biaya pendidikan.
Tidak berhenti di situ. Keterbatasan ekonomi membuat anak keduanya juga tidak memiliki buku cetak untuk belajar. Agus mengaku kondisi tersebut bahkan pernah membuat anaknya mendapat hukuman dari guru.
Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.
Bagi seorang ayah, kondisi tersebut menjadi luka tersendiri.
Ia ingin anak-anaknya belajar dengan tenang seperti anak-anak lainnya. Namun, keadaan ekonomi membuat dirinya harus memilih dan mengutamakan kebutuhan yang paling mendesak.
Untuk Makan Saja Harus Berjuang
Di tengah persoalan pendidikan, kebutuhan paling dasar pun menjadi perjuangan.
Agus memiliki anak yang masih berusia sekitar 2,5 tahun. Ia menyadari anak seusia tersebut membutuhkan makanan bergizi dan asupan yang cukup untuk tumbuh sehat.
Namun, kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk membuat kebutuhan tersebut tidak selalu mudah dipenuhi.
“Untuk makan saja saya harus berjuang keras. Anak saya masih balita, tentu membutuhkan makanan yang sehat dan bergizi. Tetapi kondisi ekonomi membuat kami harus hidup prihatin,” ungkapnya.
Harus Di usir dari kontrakan
Ujian lain pun datang lagi, dimana saya bersama keluarga harus pindah kontrakan. Hal ini karena dampak dari PHK, karena harus membayar lunas kontrakan.
Kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama.Untuk bertahan, Agus terpaksa meminjam uang kepada teman-teman sesama jurnalis agar keluarganya tetap bisa makan. Sejumlah rekan seprofesi memberikan pinjaman maupun bantuan.
Seorang dosen juga disebut Agus turut membantu keluarganya ketika mengetahui kondisi yang sedang dihadapinya.
Bantuan tersebut menjadi penyambung hidup di tengah ketidakpastian penghasilan.
Sudah Berusaha Meminta Perhatian
Agus mengaku tidak tinggal diam. Ia berusaha menyampaikan kondisi yang dialaminya melalui media sosial kepada sejumlah tokoh, termasuk berharap persoalannya mendapat perhatian pemerintah.
Namun hingga kini, ia mengaku belum mendapatkan tanggapan yang diharapkan.
Ia juga pernah menceritakan persoalannya kepada salah seorang pejabat dengan harapan persoalan jurnalis korban PHK dapat disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Namun, kembali ia mengaku belum memperoleh kabar.
“Saya berharap persoalan dampak PHK terhadap jurnalis bisa disampaikan kepada Presiden. Tetapi sampai sekarang belum ada tanggapan. Saya hanya berharap ada kabar baik,” ujarnya.
Tidak Minta Dikasihani
Di balik kesulitan yang dihadapi, Agus menegaskan bahwa dirinya tidak ingin dikasihani.
Ia hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk kembali bekerja.
Baginya, pekerjaan bukan sekadar soal mendapatkan penghasilan pribadi.
Pekerjaan adalah jalan untuk memastikan anak-anaknya tetap bisa sekolah, kebutuhan pangan keluarga terpenuhi dan kehidupan rumah tangga kembali berjalan normal.
“Saya tidak ingin dikasihani. Saya hanya ingin ada kesempatan untuk bekerja kembali. Saya ingin bisa menghidupi keluarga saya dengan hasil kerja sendiri,” katanya.
Ia berharap segera mendapatkan pekerjaan baru sehingga kondisi ekonomi keluarganya dapat kembali pulih.
“Saya berharap dampak PHK ini bisa cepat selesai dan ada pekerjaan baru yang membuat ekonomi saya kembali normal. Saya ingin kebutuhan anak-anak saya terpenuhi dan urusan pendidikan mereka bisa segera selesai,” ujarnya.
Di Balik PHK Ada Istri yang Ikut Berjuang
Tak hanya itu, istri juga sudah berjuang keras untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarga, karena itu perjuangan istri juga patut dihargai.
Kisah Agus menjadi gambaran bahwa PHK terhadap seorang jurnalis tidak berhenti pada hilangnya pekerjaan.
Di belakang seorang pekerja media yang terkena PHK terdapat keluarga yang ikut merasakan dampaknya. Ada anak yang membutuhkan biaya sekolah, ada kebutuhan pangan yang harus dipenuhi, dan ada masa depan keluarga yang harus tetap diperjuangkan.
Gelombang PHK di industri media juga telah menjadi perhatian organisasi profesi jurnalis. Persoalan tersebut bukan hanya mengenai kehilangan pekerjaan, tetapi juga menyangkut hak pekerja dan keberlangsungan kehidupan keluarga yang ditinggalkan.
Bagi Agus dan jurnalis korban PHK lainnya, harapannya sederhana.
Mereka ingin kembali bekerja. Mereka ingin mendapatkan penghasilan yang layak. Dan yang paling penting, mereka ingin tetap mampu menjalankan tanggung jawab untuk menghidupi keluarga.
“Cerita saya ini mungkin hanya sebagian kecil dari cerita teman-teman lain yang juga terkena PHK. Kami tetap harus berjuang. Kami berharap suatu saat ada kabar baik dan kehidupan keluarga kami bisa kembali normal,” terangnya.
















