BEIJING, 21 Juni 2026 /PRNewswire/ — Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing, menuntaskan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Tiongkok pada 15–19 Juni 2026. Kunjungan tersebut menandai babak baru dalam hubungan bilateral antara kedua negara yang bertetangga, serta membuka peluang kerja sama praktis yang lebih luas di berbagai bidang.
Selama berada di Tiongkok, Min Aung Hlaing berkunjung ke China Railway Construction Corporation Limited di Beijing dan melakukan perjalanan dari Beijing ke Shanghai dengan menggunakan kereta cepat Fuxing. Melalui kunjungan tersebut, ia melihat langsung berbagai pencapaian pembangunan Tiongkok dan menyampaikan keinginan Myanmar untuk memperluas kerja sama infrastruktur dengan negara tersebut.
Kedua negara juga menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama yang semakin memperkuat persahabatan "pauk-phaw" yang telah terjalin lama antara Tiongkok dan Myanmar.
Dalam pertemuan dengan Min Aung Hlaing pada Selasa (17/6), Presiden Tiongkok Xi Jinping menyatakan bahwa Tiongkok siap berbagi pengalaman dalam bidang pembangunan dengan Myanmar, serta bekerja sama membangun komunitas masa depan bersama antara Tiongkok-Myanmar yang berlandaskan persahabatan politik, sikap saling percaya, pembangunan yang saling menguntungkan, koordinasi keamanan, dan pertukaran antarmasyarakat.
Selama bertahun-tahun, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar, sumber impor terbesar, serta salah satu investor terpenting bagi Myanmar. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai US$19,4 miliar pada 2025 atau meningkat 19,1% dari tahun sebelumnya.
Hubungan perdagangan kedua negara juga ditopang struktur ekonomi yang saling melengkapi. Tiongkok mengekspor peralatan elektromekanis dan kendaraan ke Myanmar, sementara Myanmar memasok produk pertanian bermutu tinggi serta sumber daya mineral ke Tiongkok. Pola tersebut menciptakan rantai industri dan perdagangan yang stabil serta saling menguntungkan.
Sebagai salah satu proyek utama dalam mekanisme kerja sama Belt and Road Initiative (BRI), Koridor Ekonomi Tiongkok-Myanmar kini memasuki fase pembangunan yang semakin cepat. Sejumlah proyek unggulan, seperti New Yangon City, Kawasan Ekonomi Khusus Kyaukphyu, dan Jalur Kereta Api Tiongkok-Myanmar, terus berkembang dan menjadi fondasi penting bagi koridor ekonomi tersebut.
Berbagai proyek konektivitas tersebut turut mendorong modernisasi industri di Myanmar, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat integrasi ekonomi lintasnegara.
Dalam pertemuan tersebut, Xi kembali menegaskan bahwa Koridor Ekonomi Tiongkok-Myanmar merupakan proyek unggulan dalam kerja sama Belt and Road.
Menurut Xi, kedua negara harus terus mendorong pembangunan proyek strategis dengan tetap mengutamakan keamanan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Myanmar.
Xi juga menyatakan kesiapan Tiongkok untuk menjalankan lebih banyak program bantuan berskala kecil yang berdampak langsung bagi masyarakat, serta memperkuat narasi kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua negara.
Pada Selasa, Tiongkok dan Myanmar turut menerbitkan pernyataan bersama yang menegaskan komitmen untuk mempercepat pembentukan komunitas dengan masa depan bersama demi memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat kedua negara.
Sebagai wujud dari eratnya hubungan bilateral, kedua pihak menandatangani sejumlah dokumen kerja sama yang mencakup sektor transportasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, hak kekayaan intelektual, pengembangan sumber daya manusia, kesehatan masyarakat, hingga media.
Kerja sama penegakan hukum juga menjadi salah satu fokus utama dalam kunjungan tersebut. Tiongkok dan Myanmar menyatakan dukungan terhadap pembentukan aliansi internasional untuk memerangi penipuan siber berbasis telekomunikasi.
Dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara telah meningkatkan koordinasi penegakan hukum untuk memberantas jaringan penipuan telekomunikasi di Myanmar bagian utara. Langkah tersebut dinilai berhasil menjaga stabilitas kawasan perbatasan, serta melindungi keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat kedua negara.
Xi menegaskan bahwa Tiongkok dan Myanmar perlu memperkuat upaya pemberantasan berbagai kejahatan lintasnegara, termasuk perjudian daring, penipuan telekomunikasi, dan perdagangan narkotika, guna menjaga keamanan dan kepentingan masyarakat kedua negara.
Sementara itu, Min Aung Hlaing menyatakan Myanmar siap bekerja sama lebih erat dengan Tiongkok untuk memberantas perjudian daring dan penipuan telekomunikasi, serta menjaga keamanan dan stabilitas wilayah perbatasan.
Kepala Yunnan Province Association for Southeast Asian Studies, Qu Jianwen, menilai bahwa kunjungan Presiden Myanmar ke Tiongkok mencerminkan kerja sama bilateral kedua negara yang terus berkembang dan memiliki prospek yang semakin cerah.












